Menerapkan Inquiry Apresiatif pada Demonstrasi Kontekstual Modul 1.3

Inkuiri Apresiatif dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep Inkuiri Apresiatif ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016). Kita akan memakai pendekatan Inkuiri Apresiatif sebagai ‘alat olahraga’ untuk kita berlari mencapai garis “finish” kita yaitu visi yang kita impikan.

Pendekatan Inkuiri Apresiatif dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitik beratkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan Inkuiri Apresiatif yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi.

Inkuiri Apresiatif menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan Inkuiri Apresiatif percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, Inkuiri Apresiatif dimulai dengan menggali hal-hal positif, pencapaian keberhasilan dan organisasi yang memiliki kekuatan, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.

Di sekolah, pendekatan Inkuiri Apresiatif dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap warga sekolah.

Perubahan yang positif di sekolah tidak akan terjadi jika pertanyaan yang ada mengenai kondisi sekolah saat ini diawali dengan permasalahan yang terjadi atau mencari aktor sekolah yang melakukan kesalahan. Pertanyaan yang sering aa sebagai permulaan adalah, “Mengapa capaian hasil belajar siswa rendah?”, “Apa yang membuat rencana kegiatan sekolah tidak berjalan lancar?”, dan lain sebagainya. Motivasi untuk melakukan perubahan tentu akan berangsur menurun jika diskusi mengarah pada permasalahan.

Pada demonstrasi kontekstual modul 1.3 ini saya mencoba untuk melalukan perubahan dengan menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif. Model yang saya gunakan adalah BAGJA dengan langkah-langkah

  • Buat Pertanyaan
  • Ambil Pelajaran
  • Gali Mimpi
  • Jabarkan rencana
  • Atur Eksekusi

Nah alurnya terlihat pada gambar berikut ini

menerapkan inkuiri apresiatif  1.3.a.7

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: