Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Koneksi Antar Materi Modul 3.1

Menurut R. M. Suwardi Suryaningrat yang kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Tujuan Pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ketika Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa) pada tahun 1922, beliau mencetuskan asas-asas pendidikan yang kerap kita kenal sebagai patrap triloka. Patrap triloka terdiri atas tiga semboyan yang sampai saat ini menjadi panutan di dunia pendidikan Indonesia: Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Umumnya semboyan tersebut diterjemahkan menjadi “di depan memberi teladan”, “di tengah membangun motivasi”, dan “di belakang memberikan dukungan”. Untuk semboyan Ing ngarso sung tulodho bisa juga diterjemahkan bahwa pendidik adalah seorang pemimpin pembelajaran yang harus menjadi tauladan yang baik termasuk saat pengambilan keputusan.

Nilai-nilai yang berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan

Selain semboyan dalam Pratap triloka, nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, sangat berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Nilai itu sendiri, menurut Rokeach (dalam Hari, Abdul H. 2015), merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan standar pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Melihat peranan nilai sangat penting dalam kehidupan tingkah laku sehari-hari, maka rasanya penting bagi seorang pendidik untuk bisa memahami dan menjiwai nilai-nilai dari seorang Guru Penggerak. Kelima nilai dari Guru Penggerak adalah: Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid. Nilai ini sendiri berkaitan erat dengan peran sebagai guru penggerak. Peran dari dari seorang Guru tentunya akan lebih maksimal jika memiliki keterampilan ataupun kompetensi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Guru penggerak harus mempunyai 4 kompetensi antara lain :mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, serta memimpin pengembangan sekolah.

Peran Guru Penggerak itu sendiri, merupakan sebuah ringkasan dari kompetensi tersebut. Terdapat 5 butir peran dari seorang Guru Penggerak:

  1. Menjadi Pemimpin Pembelajaran
  2. Menggerakkan Komunitas Praktisi.
  3. Menjadi Coach Bagi Guru Lain
  4. Mendorong Kolaborasi Antar Guru
  5. Mewujudkan Kepemimpinan Murid

Nilai dan peran ini yang diharapkan terus tumbuh dan dilestarikan dalam diri seorang Guru Penggerak. hal ini saling mendukung satu dengan lainnya, dan tentunya diharapkan menjadi pedoman berperilaku untuk seorang Guru Penggerak.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Sebagai seorang pendidik tentunya kita sering dihadapkan pada situasi atau permasalahan sulit. Sebagai pemimpin pembelajaran, seorang pendidik harus mampu melihat situasi atau permasalahan yang dihadapi apakah permasalahan tersebut merupakan dilema etika atau bujukan moral. Dengan nilai- nilai yang dimiliki seorang pendidik tersebut, baik nilai inovatif, kolaboratif, mandiri dan reflektif seorang pendidik dapat menuntun muridnya untuk dapat mengenali potensi yang dimiliki  dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah yang dihadapi.

Sehingga dengan nilai- nilai dari seorang pendidik tersebut, yang merupakan landasan pemikiran  yang dimiliki akan cendrung pada prinsip ” melakukan demi kebaikan orang banyak, menjunjung tinggi prinsip- prinsip/ nilai- nilai dalam diri kita dan melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan lakukan kepada diri kita. Maka seorang pendidik akan dapat mengambil sebuah keptusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian pengambilan keputusan.

Ketika kita mengambil keputusan sudah memperhatikan beberapa hal penting terkait 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, maka keputusan yang kita ambil akan tepat . Pengambilan keputusan yang tepat harus melalui tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini mungkin akan banyak ditemui kesulitan. Jika kita sebagai pendidik tidak memahami betul ap aitu paradigma, prinsip, dan Langkah pengambilan keputusan, sudah dipastikan kita akan tetap kesulitan dan kebingungan mencari jawaban dari semua persoalan yang kita cari.

Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid

Ketika kita mengambil keputusan sudah memperhatikan beberapa hal penting terkait 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, maka keputusan yang kita ambil akan berdampak baik kepada murid karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid, sehingga dengan keselamatan dan kebahagiaan yang didapatkan oleh murid karena keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin pembelajaran, maka kita telah mampu memerdekakan mereka dalam belajar.

Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Mengapa? Karena seorang pemimpin pembelajaran harus menjadi tauladan yang baik bagi murid-muridnya. Jika pemimpin pelajaran mengambil keputusan dengan tepat sudah dipastikan murid akan memperhatikan dan meriru kita untuk mewujudkan kepemimpinan murid.

Koneksi antar materi

Kesimpulan akhir  yang dapat kita tarik dari pembelajaran modul materi 3.1 ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya.

Tujuan Pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Salah satu semboyan Taman Siswa yaitu Ing ngarso sung tulodho diharapkan bahwa pendidik adalah seorang pemimpin pembelajaran yang harus menjadi tauladan yang baik termasuk saat pengambilan keputusan. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, sangat berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Kelima nilai itu adalah: Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid. Dengan nilai- nilai dari seorang pendidik tersebut, maka seorang pendidik akan dapat mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian pengambilan keputusan. Ketika kita mengambil keputusan harus memperhatikan beberapa hal penting terkait 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

4 paradigma itu adalah

  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Tanpa kita sadari, kita sudah mengenal dan menggunakan 3 prinsip dilema etika. Prinsip tersebut antara lain

  • Berpikir berbasis hasil akhir : Mementingkan orang banyak. akan tetapi akibat dan konsekuensi dari keputusan tidak bisa diprediksi.
  • Berpikir berbasis peraturan : mengikuti prinsip aturan yang berlaku. Pada penerapannya prinsip ini dianggap terlalu kaku dan mengabaikan keberagaman individualitas manusia.
  • berpikir berbasis rasa peduli : Memutuskan sesuatu berdasarkan pemikiran bahwa apa yang anda harapkan orang lain akan melakukan. Prinsip ini lebih banyak melibatkan empati. tetapi prinsip ini terlalu sederhana untuk dianggap prinsip dilema etika yang utama. prinsip ini tidak menunjang nilai-nilai kebajikan yang ideal jika melibatkan tindakan tidak terpuji.

Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan Untuk memandu kita dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat kita lakukan.

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
  4. Pengujian benar atau salah (Uji Legal, uji Regulasi/Standar Profesional, Uji Intuisi, Uji Publkasi, Uji panutan)
  5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
  6. Melakukan Prinsip Resolusi Dari 3 prinsip penyelesaian dilema,
  7. Investigasi Opsi Trilema Dalam mengambil keputusan,
  8. Buat Keputusan
  9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Perlu kita ingat bahwa 9 langkah pengambilan keputusan ini adalah panduan, bukan sebuah metode yang kaku dalam penerapannya. Pengambilan keputusan ini juga merupakan keterampilan yang harus diasah agar semakin baik. Semakin sering kita berlatih menggunakannya, kita akan semakin terampil dalam pengambilan keputusan. Hal yang penting dalam pengambilan keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab dan mendasarkan keputusan pada nilai-nilai kebajikan universal.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: